Senin, 05 Maret 2012

Keluarga penderita Albino terbanyak di dunia


Keluarga pasangan Roseturai Pullan (50) - Mani (45) memecahkan rekor dunia. Mereka adalah keluarga terbesar di dunia yang mengidap albino, di Indonesia disebut dengan penyakit bulai. Keluarga asal India ini ada 10 orang yang mengidap albino.
Albino adalah penyakit kelainan bawaan, di mana pigmen melanin tidak diproduksi atau hanya sedikit produksinya. Pigmen melanin berfungsi untuk menentukan warna kulit, rambut dan mata dan mencegah kulit dari kanker kulit dan melin­dungi kulit dari paparan sinar matahari.

Pigmen melanin juga memainkan peran dalam pengembangan saraf optik tertentu. Meskipun tidak ada obat untuk albino, orang dengan gangguan tersebut dapat mengambil langkah untuk mem­perbaiki penglihatan dan menghindari paparan sinar matahari yang terlalu banyak.

Roseturai Pullan dan istrinya, Mani memiliki delapan anggota keluarga lainnya yang menderita kelainan albino seperti mereka. Bertahun-tahun, mereka hidup dengan cibiran dan tanggapan buruk lainnya. Namun kini, mereka terkenal karena masuk di buku catatan Guiness World Record sebagai keluarga albino terbanyak. Anak-anak pasangan ini, Vijay (25), Shankar (24), Renu (23), Deepa (21), Ramkishan (19) dan Pooja (18) juga mewarisinya.

Renu menikahi penderita albino lainnya, Rosheh (27) dan putra mereka, Dharamraj (2), juga mengi­dapnya. Semuanya tinggal satu atap di sebuah rusun dengan satu kamar di Delhi. Mereka juga memiliki rambut putih dan penghi­l­a­tan terbatas, hal-hal yang terjadi pada penderita albino. “Banyak orang menyebut kami angrez yang artinya english. Sulit menjelaskan bahwa kami juga orang India asli,” kata Roseturai.

Orangtua mereka mengingatkan, agar menikah sesama albino agar beruntung dan kaya. Pasangan ini menikah pada 1983 dan pindah dari Tamil Nadu, India Selatan ke Delhi. Roseturai menafkahi keluarganya dengan berjualan telur.

“Hidup kami susah, terutama di selatan yang memperlakukan kami seperti orang penyakitan. Orang Delhi lebih terbuka, meski banyak yang menyangka kami orang asing. Tapi albino takkan mele­mahkan kami,” lanjut Roseturai.

Mani mengaku sempat ke ru­mah sakit untuk mensteril dirinya, karena tak ingin melahirkan anak-anak albino. Namun, dokter malah takut melihatnya dan memintanya pulang. Akhirnya mereka memiliki banyak anak yang semuanya albino.

“Saya kini melihatnya sebagai berkah dari Tuhan,” ujarnya, me­ngenang masa kecilnya yang penuh air mata karena godaan dan hinaan. Semua anak-anaknya bersekolah, menggunakan kaca pembesar untuk membantu mem­baca.

Keluarga Pullans kini menanti tahta rekor dunia. Pihak Guiness sudah menyampaikan, akan segera menghubungi mereka. “Kami keluar­ga baik-baik. Menyenangkan ji­ka orang tahu siapa kami se­benarnya,” pungkas Roseturai.

Albino disebabkan karena mutasi pada salah satu gen yang memberikan instruksi kode kimia untuk membuat salah satu dari beberapa protein yang terlibat dalam produksi pigmen melanin. Melanin dihasilkan oleh sel yang disebut melanosit, yang ditemukan pada kulit dan mata. Mutasi gen mung­kin menyebabkan tidak ada pro­duksi melanin pada semua atau penurunan yang signifikan dalam jumlah melanin. Albino terjadi katika seorang anak mewarisi gen yang mengalami mutasi dari kedua orang tuanya, jika hanya memiliki salah satu saja maka tidak akan terjadi albino. (haluan/inc/dhc).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar