Kamis, 07 Juni 2012

Rendang Jadi Makanan Terlezat Di dunia


Ketika masakan rendang (Indonesia) menjadi populer dengan sebutan makanan terlezat di dunia versi CNN Go, barulah orang Padang tersentak dan teringat betapa pentingnya melestarikan masakan spesifik dari ranah Minang ini. Berbagai upaya dilakukan pemerintah Sumatera Barat misalnya dengan mengadakan festival rendang se Sumatera Barat di Taman Budaya Padang yang diwakili oleh kabupaten dan kota. Selang beberapa waktu, giliran pemko Padang menggelar lomba rendang diLapangan Imam Bonjol Padang.

Bahkan ada kabar, akan digelar pula tahun ini festival rendang yang didukung oleh salah satu maskapai penerbangan di Indonesia. Dimana hasil dari lomba ini akan menjadi pemegang hak pengadaan rendang dalam penerbang tersebut. Duh…begitu antusiasnya orang Padang .

Meski belum terlambat, pemerintah Sumatera Barat akan mempatenkan rendang, seperti disarankan Tifatul Sembiring , Menkominfo RI saat menghadiri lomba memasak rendang sekota Padang pada akhir tahun 2011 lalu. Hal ini menghindari terjadinya klaim dari Negara lain terhadap makanan tradisi Minangkabau.

Karena itu pula Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Sumbar Burhasman Bur menyarankan agar rendang juga dibuat franchisenya seperti Pizza Hut dan KFC. “Pizza Hut dari Italia dan KFC dari Amerika saja bisa dijadikan franchise, kenapa rendang tidak bisa?” kata Burhasman kepada wartawan dalam sebuah wawancaranya.
Sepertinya tidaklah semudah itu. Untuk mempatenkan rendang sebagai makanan spesifik dari Sumatera Barat seperti disarankan Tiffatul itu, semuanya tergantung dari pemerintah Sumatera Barat. Apanya yang dipatenkan? Masakannya secara keseluruhan atau bumbunya. Karena bumbu rendang, meski secara umum dipergunakan bumbu yang sama, tetapi setiap daerah di Sumatera Barat memiliki kekhasan masing-masing.

Di Dharmasraya, kebiasaan memasak rendang, seperti dilakukan Arlindawati, seorang guru SD yang ikut dalam tim mewakili daerahnya dalam festival rendang di Taman Budaya beberapa bulan lalu, ada kecendrungan tidak menggunakan banyak kelapa. “Kita menghindari kolesterol. Kebanyakan kelapa membuat kadar kolesterol tinggi. Untuk 5 kg daging menggunakan 9 butir kelapa, 5 diambil santannya, sedangkan 4 butir lagi digonseng sampai hitam. Memeraas kelapa menggunakan air kelapa agar terasa manisnya,” jelas Linda.
Bumbu lainnya, ketumbar, merica, buah palo, serei, jahe, daun limau kunyit, di giling semuanya atau bisa juga ditumbuk dengan lesung. Semua bumbu, kata Linda, dicampurkan dengan kelapa yang digonseng tadi. “Rendang kita ada rasa manisnya, dan dijamin rendah kolesterol,” tutur ibu yang sudah 20 tahun lebih menguasai pengolahan rendang. Ia juga sering diminta memasak rendang dalam pesta “baralek “ di Pulau Punjung kampungnya.

Berbeda dengan daerah Solok Selatan, kelapa yang dipergunakan justru lebih banyak. Untuk 5 kg daging dibutuhkan 15 butir kelapa. Dari jumlah itu, satu butir digonseng atau dirandang. Disini, tidak memanfaatkan air kelapa buat perasan santan. Bumbunya, daun limau diparuik, kunyit, serai, salam dan sedikit daun ruku-ruku. Biasanya ditambahkan kacang merah dan kentang.

Payakumbuh, daerah yang masih melestarikan kebiasaan memasak bersama-sama dalam hajatan warga, rendang juga dijadikan masakan saat adanya kematian. Menurut Ade Taufik, seorang pengusaha catering yang mahir memasak rendang, kalau rendang Payakumbuh itu warnanya betul-betul hitam. Semua daun-daun seperti daun kunyit daun salam dan daun limau diiris. Bumbu lain digiling seperti langkok2, bawang merah, bawang putih dan kunyit.
Uniknya, semua daerah di Sumbar, masih menggunakan tungku (perapian dengan kayu) untuk memasaknya. “Dengan menggunakan tungku kayu, aroma rendang menjadi lebih enak, “ kata Dia yang memiliki usaha rendang berlabel Nikmat.

Jika hari besar, misalnya lebaran dan Lebaran haji, rendang daging selalu jadi menu wajib setiap rumah di Payakumbuh. Di suatu daerah, Kata Ida, ada yang meletakkan rendang sebagai hidangan “kapalo jamba” di setiap perhelatan. Selain itu memang ada rendang paru, rendang suir, rendang telur , tetapi dibuat dalam hari-hari biasa.

Menelusuri keberadaan rendang pertama kali di ranah Minang, menurut Puti Reno Raudha Thaib, sebagai masakan tradisi, diduga rendang telah lahir sejak orang Minang menggelar acara adat pertamanya. “Kemudian hingga saat ini rendang menjadi masakan tradisi yang dihidangkan dalam acara adat dan hidangan keseharian,” ucapnya.

Sejarawan Universitas Andalas Prof Gusti Asnan menduga, rendang telah menjadi masakan sejak orang Minang mulai berlayar ke Malaka untuk berdagang pada awal abad ke-16. “Karena perjalanan melewati sungai dan memakan waktu lama, rendang mungkin menjadi pilihan tepat saat itu sebagai bekal,” katanya.

Popularitas rendang semakin mendunia ketika tim kuliner Sumatera Barat melakukan festival Kuliner Indonesia di Berlin selama seminggu (9 – 16 Maret). Acara itu merupakan peringatan 60 tahun hubungan Indonesia dan Jerman.

Diberitakan harian Singgalang hari ini, ibu Gubernur Sumbar Nevi Irwan sebagai pimpinan rombongan sangat bersemangat menceritakan hasil perjalanan tim kuliner ini. Bahkan antusias akan mengajak pengusaha rendang di Sumbar untuk memproduksi rendang dalam kemasan kaleng. Tujuannya, selain lebih mempopulerkan rendang dan memperluas jangkauan, juga dapat menghidupkan ekonomi masyarakat. Melalui program ini dapat memberdayakan kaum perempuan dan remaja putri putus sekolah di 19 kab/kota di Sumbar. Rencananya akan dibentuk kelompok ditiap kab/kota untuk dilatih jarkan m memasak dan mengemas masakan rendang. Kepada mereka akan diberi peralatan.

Dengan popularitas itu, sebenarnya tidak perlu khawatir terhadap klaim Negara lain terhadap rendang. Sebab orang di seluruh dunia akan tahu, kalau rendang dari Sumatera Barat memiliki rasa yang khas. Kalaupun negeri Malaysia mengklaim rendang adalah masakan mereka , tetapi rendang Padang mempunyai cita rasa berbeda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar